Indah Muslichatun

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

KKM, perlukah?

Dengan adanya KKM, diharapkan siswa mempunyai semangat belajar yang lebih baik karena mereka harus melampaui standar nilai tertentu. Tetapi masalahnya adalah tidak semua siswa mampu melampaui kriteria tersebut walaupun mereka sudah belajar dengan sungguh-sungguh. Bukankah kita tidak bisa mengharapkan seorang siswa mumpuni di semua bidang studi? Setiap siswa adalah unik. Mereka mempunyai kelebihan dan kekurangan di bidangnya masing-masing. Adalah sangat manusiawi kalau seorang siswa menonjol di penguasaan Bahasa asing, misalnya, tetapi dia sangat lemah di matematika, atau seseorang lemah di hampir semua bidang studi, tetapi dia sangat berbakat dalam mendesain pakaian, atau menyanyi, atau hal-hal lain yang tidak dipelajari di sekolah. Meminjam istilah Howard Gardner, kita mengenal adanya multiple intelligence, di mana setiap orang mempunyai sisi intelegensi yang berbeda-beda. So, menuntut siswa untuk mencapai KKM di semua bidang studi sungguh menyalahi kodrat manusia, I think. Masalah lain yang muncul adalah keterbatasan waktu guru dalam melakukan remedial test maupun remedial teaching. Guru dituntut untuk membuat siswa menguasai kompetensi tertentu yang itu sudah direncanakan alokasi waktunya. Kadang-kadang guru juga kekurangan waktu karena situasi dan kondisi tertentu di lapangan. Idealnya, ketika siswa mendapatkan nilai di bawah KKM pada suatu penilaian, maka guru harus melakukan pembelajaran ulang dan penilaian ulang pada siswa tersebut berkali-kali sampai siswa mencapai nilai KKM. Tetapi pada kenyataannya, guru biasanya melakukan hal tersebut hanya sekali. Setelah penilaian yang ke dua dan siswa tersebut tetap mendapatkan nilai di bawah KKM, biasanya guru hanya memberikan tugas atau kadang-kadang, karena kesibukan seorang guru, guru tidak melakukan tindak lanjut apa pun kepada siswa tersebut. Pada saat pemberian nilai raport, guru memberi siswa yang belum melampaui KKM tadi dengan nilai pas KKM. Nah...masalah yang muncul adalah bahwa ritme ini ditangkap oleh siswa-siswa yang malas sebagai peluang untuk terus memelihara kemalasan mereka. "Buat apa saya belajar keras, toh nilai berapa pun yang saya raih, nanti di raport pasti mencapai KKM." Yang terjadi adalah bukannya siswa bertambah semangat belajarnya, tetapi mereka, yang malas terutama, semakin terlena dengan adanya KKM yang notabene biasanya diatas 70. Ini adalah dampak buruk yang perlu diperhatikan oleh pemerintah. Alih-alih meningkatkan prestasi siswa, KKM melenakan siswa dalam kemalasan mereka. Di beberapa kali kesempatan bertemu dengan orang tua siswa, seorang wali/orang tua siswa dengan sangat bangga mengatakan bahwa anaknya, kelas XII, termasuk anak yang berprestasi di sekolahnya karena di hampir semua mata pelajaran, dia mendapatkan nilai 80. Padahal KKM tiap mata pelajaran di kelas XII adalah 80. Di mata guru dan siswa yang faham tentang sistem KKM yang lazim terjadi di sekolah, membaca nilai 80 dengan KKM 80 adalah nilai 50 - 60 atau bisa jadi kurang dari itu. Di sini telah terjadi pengaburan kualitas nilai yang tertera dalam buku raport. Bagaimana kemudian dunia kerja atau Perguruan Tinggi memahami nilai-nilai siswa sekarang yang hampir semuanya tinggi? Apa artinya nilai tinggi bila ternyata itu tidak selaras dengan kompetensi siswa? Di tingkat SMP atau SMA, KKM mungkin belum perlu diterapkan. Biarlah terlihat secara jelas di buku raport nilai-nilai siswa secara apa adanya, sehingga guru atau orang tua, atau siswa itu sendiri menyadari di mana letak kekurangan dan kelebihannya. Bila dia mendapatkan nilai 50 di rapot, misalnya, maka di semester berikutnya, dia akan termotivasi supaya belajar lebih keras lagi. Atau, itu menjadi data buat dirinya, bahwa sebaiknya kelak dia tidak melanjutkan belajarnya di bidang tersebut karena dia tidak mempunyai potensi yang memadai di situ. Sebaliknya, dengan nilai apa adanya, siswa akan melihat di bidang apa dia berpotensi baik, dan diharapkan mereka , khususnya siswa SMA, memilih jurusan yang mereka kuasai dan minati sehingga mereka bisa lebih berkembang di bidang tersebut. Berbeda dengan di SMP dan SMA, KKM harus diterapkan di perguruan tinggi atau sekolah kejuruan karena itu akan benar-benar menjamin kualitas lulusannya yang langsung akan bekerja di bidang yang dipelajarinya selama ini. Tapi ya sudahlah...yang harus terus kita sadarkan kepada siswa secara terus menerus adalah bahwa penguasaan siswa terhadap ilmu pengetahuan dan keterampilan serta munculnya kesadaran untuk menjadi pribadi yang berkarakter unggul, jauh lebih penting dari pada sekedar sederetan nilai-nilai yang pas atau melampaui KKM. Wallahua'lam...

KKM
DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post